Selama bertahun-tahun, fintech menjadi primadona ekosistem startup Indonesia. Namun, angin mulai berubah. Setelah pendanaan fintech melambat, perhatian investor kini bergeser ke sektor lain yang menjawab masalah nyata. Marine tech, agritech dan healthtech mulai disebut sebagai “tambang emas” baru. Ketiganya menggarap kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari laut, pangan, hingga kesehatan. Artikel ini akan membahas kenapa sektor-sektor ini naik daun dan apa peluangnya ke depan.
Kenapa Bukan Lagi Era Fintech?
Fintech memang belum tumbang, tetapi tren pendanaannya tidak lagi semeriah dulu. Akibatnya, investor mulai mencari peluang di luar sektor yang sudah ramai. Mereka kini lebih tertarik pada bisnis yang menyelesaikan persoalan struktural khas Indonesia, bukan sekadar mengejar pertumbuhan cepat. Oleh karena itu, sektor yang dulu dianggap “kurang seksi” justru mulai dilirik karena dampaknya lebih nyata dan bisnisnya cenderung lebih tahan banting. Menurut Tech in Asia, banyak startup pendatang baru kini justru bersinar di sektor-sektor ini.
Marine Tech: Tambang Emas dari Laut
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia punya potensi laut yang luar biasa. Karena itu, marine tech atau teknologi kelautan menjadi sangat masuk akal untuk dikembangkan. Startup di bidang ini membantu nelayan terhubung langsung ke pasar, merapikan rantai pasok pesisir, dan memodernkan budi daya perikanan.
Sebagai gambaran, perusahaan seperti Aruna menghubungkan hasil tangkapan nelayan dengan pembeli yang lebih luas. Selain itu, sektor akuakultur juga tumbuh pesat. Data Tracxn pada awal 2026 mencatat ada puluhan perusahaan teknologi akuakultur di Indonesia, dengan nama-nama seperti Aruna dan Delos di antaranya. Singkatnya, laut bukan lagi sekadar sumber daya tradisional, melainkan ladang inovasi digital.
Agritech dan Healthtech, Dua Sektor yang Menjawab Kebutuhan Dasar
Selain laut, sektor pangan dan kesehatan juga menjadi sorotan. Agritech dan healthtech sama-sama menjawab kebutuhan paling mendasar masyarakat, sehingga permintaannya cenderung stabil. Berikut gambaran singkat keduanya:
- Agritech. Sektor ini mendigitalkan pertanian lewat sensor IoT, marketplace hasil panen, hingga pembiayaan bagi petani. Pemain seperti TaniHub membantu memangkas rantai distribusi yang panjang.
- Healthtech. Layanan kesehatan digital seperti Halodoc dan Alodokter memperluas akses konsultasi dokter, termasuk ke daerah yang minim fasilitas.
Dengan demikian, agritech dan healthtech tidak hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga memberi dampak sosial yang besar.
Kenapa Agritech dan Healthtech Menarik bagi Investor?
Daya tarik utama agritech dan healthtech terletak pada masalah nyata yang mereka selesaikan. Indonesia masih menghadapi rantai pasok pangan yang terfragmentasi dan akses kesehatan yang belum merata. Karena itu, solusi di kedua bidang ini punya pasar yang luas dan berkelanjutan.
Selain itu, tren global menuju keberlanjutan ikut mendorong minat investor. Salah satu laporan bahkan menyebut pendanaan ke sektor pertanian dan energi terbarukan naik sekitar 40% pada 2025 dibanding tahun sebelumnya. Tak mengherankan, banyak modal ventura mulai mengarahkan dananya ke sektor-sektor berdampak ini.
Tantangan di Balik Peluang Agritech dan Healthtech
Meski menjanjikan, jalan menuju sukses tidak mulus. Agritech dan healthtech kerap dipandang lebih berisiko karena investor belum sefamiliar dengan model bisnisnya seperti di fintech. Selain itu, sektor ini menuntut kesabaran, tata kelola yang rapi, dan pemahaman lapangan yang dalam.
Healthtech, misalnya, harus tunduk pada aturan ketat soal privasi medis dan lisensi tenaga kesehatan. Sementara itu, agritech perlu menjangkau petani di daerah dengan infrastruktur terbatas. Oleh karena itu, startup yang ingin bertahan harus fokus pada efisiensi dan profitabilitas, bukan sekadar membakar modal.
Baca juga: Tak Melulu Pria, 3 Wanita Ini Jadi CEO Startup Teknologi
Pergeseran ini menunjukkan ekosistem startup Indonesia semakin matang. Bukan lagi sekadar mengejar tren, investor kini memburu sektor yang menyelesaikan masalah nyata seperti marine tech, agritech dan healthtech. Dengan potensi laut, pangan, dan kesehatan yang besar, ketiganya layak disebut “tambang emas” baru. Namun, kuncinya tetap sama: hanya startup yang disiplin dan berkelanjutan yang akan benar-benar memetik hasilnya.