Startup Jaringan Hotel Murah, Beda Nasib di Kala Pandemi

Ilustrasi layanan jaringan hotel murah. (sumber: Pixabay)
Isi Tabel

Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun lalu benar-benar mencekik para pengusaha, seperti startup jaringan hotel murah. Sebab, bisnisnya mengalami kesulitan luar biasa dalam mempertahankan usahanya itu. Namun, beberapa startup jaringan hotel murah di Indonesia mengalami nasib yang berbeda-beda. Beberapa mampu bertahan, tetapi ada pula yang akhirnya terpaksa tutup layanan alias bangkrut.

Permasalahan yang dialami oleh pengusaha startup bidang hospitality memang sangat wajar dan cukup beralasan. Sebab, merebaknya virus corona memaksa masyarakat harus tetap berada di rumah saja. Sementara itu, pemasukan utama jaringan hotel berasal dari orang-orang yang travelling yang pasti membutuhkan tempat untuk menginap.

Lantas, bagaimana kiprah para startup jaringan hotel murah di Indonesia selama pandemi covid-19 dalam beberapa bulan belakangan? Yuk, coba simak ringkasan ulasannya berikut.

Baca juga: Startup Bobobox, Hotel Kapsul yang Bersinar Kala Pandemi

OYO Rooms Indonesia

Kamar hotel OYO Rooms Indonesia

Siapa yang tak tahu OYO? Nama startup penyedia hotel murah dari India ini sudah mendunia dan bahkan jadi salah satu jaringan hotel raksasa di Indonesia. Meski berstatus sebagai yang terbesar dan terkenal, tetapi OYO Rooms Indonesia tetap terkena dampak nyata dari pandemi.

Bahkan, mengutip dari media online Tempo, OYO Indonesia sempat mengambil kebijakan dengan merumahkan sebagian karyawan dari berbagai golongan dan jabatan selama 60-90 hari pada April 2020 lalu. Tidak hanya di Indonesia, melansir dari Katadata, secara global OYO mencatat okupansi hotel yang jadi mitra startup dari India ini anjlok sampai 60% akibat pandemi.

Ketika masuk fase new normal di bulan Juni, OYO Rooms pun menyiapkan strategi sesuai protokol kesehatan yang ketat bernama Sanitized Stay. Mulai dari physical distancing antara tamu dengan pelayan saat check-in maupun check-out, dan aturan satu kamar untuk satu orang.

Selanjutnya, ada zero touch policy, kebersihan dan sanitasi bagi para karyawan beserta staff. Lalu, penyemprotan desinfektan di area publik yang sering disentuh, penyediaan hand sanitizer dan tempat cuci tangan. Kemudian, juga tersedia alat pelindung diri, dan bantuan ke rumah sakit terdekat.

Hasilnya, berdasarkan berita yang disadur dari Liputan6, tingkat okupansi mulai berangsur-angsur naik hingga 20% . Hingga saat ini, OYO Indonesia pun masih tetap bertahan menjadi startup jaringan hotel murah.

Startup Jaringan Hotel Murah Red Doorz

Layanan kamar hotel mural RedDoorz

Tak jauh berbeda dengan OYO, RedDoorz juga mengalami masalah yang cukup pelik. Startup penyedia hotel murah asli Indonesia okupansinya anjlok sepanjang pandemi, terutama saat bulan Maret – April. Hal ini terjadi akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah Nusantara.

Mengutip dari Kompas.com, Adil Mubarak selaku VP Operations of RedDoorz menyampaikan, okupansi startup yang identik dengan warna merah ini selama Maret-April di Jakarta berkisar 29-38%. Padahal, sewaktu sebelum pandemi rata-rata okupansinya mencapai 73%.

Mengetahui hal tersebut, RedDoorz pun melakukan sejumlah langkah demi bertahan dari krisis. Seperti pemotongan biaya pengeluaran untuk pemasaran digital dan perjalanan, serta pangkas gaji manajemen senior. Kemudian, juga menghentikan perekrutan, dan melepas kurang dari 10% karyawannya. Tak hanya itu saja, pada awal Mei seluruh pegawai terkena pemotongan gaji sementara sebesar 15%.

Upaya lain yang dilakukan oleh RedDoorz untuk bangkit adalah dengan menjalin kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Melalui program Red Heroes, kedua pihak itu bekerja sama guna membantu para tenaga medis melawan virus corona. Programnya berupa penyediaan 100 kamar gratis bagi tenaga medis di dua hotel RedDoorz di Jakarta.

Selain itu, RedDoorz juga bermitra dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Keduanya meluncurkan Hygiene Pass, program serupa Sanitized Day milik OYO yang merupakan program sertifikasi higienitas untuk industri perhotelan. Sertifikasi tersebut ditujukan ke para mitranya, syaratnya setiap hotel harus rutin menerapkan tindakan kebersihan dan higienis secara ketat.

Berbagai macam upaya yang dilakukan oleh RedDoorz sebagai startup jaringan hotel murah pun berbuah hasil. Okupansi mereka mulai pulih dan terus bertahan sampai saat ini. Bahkan, startup ini berhasil meraih Top 10 The Most Improved Brand 2020 di Indonesia dari ajang YouGov Best Brand 2020 Indonesia. YouGov merupakan salah satu perusahaan riset pasar Tanah Air.

Airy Rooms

Kamar hotel murah Airy Rooms

Berikutnya adalah perusahaan penyedia hotel yang juga sangat terkenal di Indonesia seperti RedDoorz dan OYO, yakni Airy Rooms. Sayangnya, startup asal Amerika Serikat ini memiliki nasib yang berbeda dengan dua rival utamanya.

Benar, Airy Rooms menjadi startup jaringan hotel murah yang justru harus menyerah. Sebab, tak mampu menanggung beban finansial selama pandemi Covid-19. Berdiri sejak tahun 2015, Airy pada akhirnya secara resmi menutup layanannya di Indonesia pada Mei 2020 lalu.

Mengutip dari media online CNBC Indonesia, CEO Airy Rooms Indonesia kala itu, Louis Alfonso Kodoatie mengungkapkan dalam siaran persnya bahwa keputusan untuk menghentikan segala layanan Airy Rooms sangatlah sulit dan disesalkan. Walaupun berbagai upaya sudah dilakukan untuk tetap bertahan. Namun, kondisi pasar yang nyaris tumbang dan situasi pandemi tak kunjung usai ini memaksa Airy Rooms untuk tutup layanan.


Itulah 3 jaringan hotel murah di Indonesia. Meski menghadapi persoalan yang sama, ternyata nasib setiap jaringan hotel tersebut berbeda-beda.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments