Berbagai Dampak Startup yang Melantai di Bursa Luar Negeri

Isi Tabel

Perwakilan direksi Bursa Efek Indonesia atau BEI mengatakan, ada satu startup berbasis digital dengan status unicorn yang akan melakukan initial public offering (IPO) pada tahun ini. Sebelumnya, IPO atau penawaran umum perdana saham ini juga biasa disebut melantai di bursa.

Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo mengatakan, masuknya perusahaan rintisan berbasis digital ke lantai bursa saham, bakal makin menyegarkan suasana pasar modal dalam negeri, Kamis (11/2/2021).

Laksono pun mengatakan, perusahaan rintisan digital yang akan melantai di bursa tersebut ialah perusahaan rintisan bidang e-commerce. Laksono pun berharap perusahaan itu jadi melantai di bursa tahun ini.

Akan tetapi BEI belum mau memberi tahu lebih rinci mengenai perusahaan yang akan melantai di bursa saham domestik tersebut.

Baca juga: Crowdo, Startup Penolong Masalah Keuangan UMKM

Potensi Merger Gojek – Tokopedia

Lalu, ada kabar mengenai potensi merger antara Gojek dengan Tokopedia kian dekat. Dalam berbagai berita tertulis bahwa kedua perusahaan sedang mendiskusikan berbagai skenario.

Dengan tujuan akhir mencatatkan saham perdana perusahaan gabungan ini atau initial public offering (IPO). di bursa saham saham Amerika Serikat (AS) dan Indonesia.

Gabungan kedua perusahaan ini, dikabarkan akan menciptakan perusahaan raksasa internet Indonesia. Dengan begitu keduanya dapat menguasai sektor transportasi, pembayaran digital, belanja online dan pengiriman.

Bahkan setelah merger, valuasi perusahaan gabungan tersebut ditafsir akan mencapai 35 miliar hingga US$ 40 miliar. Menurut CB Insights, saat ini valuasi Gojek mencapai US$ 10 miliar dan Tokopedia US$ 7 miliar.

Traveloka

Traveloka pun juga berencana untuk melakukan IPO di bursa saham Amerika Serikat atau bursa Wall Street tahun ini. Aksi korporasi ini akan dilakukan melalui perusahaan cek kosong atau lebih dikenal dengan special purpose acquisition company (SPAC).

Proses IPO ini akan berlanjut dengan rencana perusahaan juga untuk mencatatkan sahamnya di Indonesia, di BEI. Dalam aksi korporasinya ini, Traveloka pun menggandeng JPMorgan Chase & Co. Hanya saja belum spesifik apakah akan listing di New York Stock Exchange (NYSE) atau Nasdaq.

Manfaat rencana IPO bagi Negara

Kabar-kabar itu pun membuat Direktur Digital Business dari PT Telkom Indonesia Tbk, Fajrin Rasyid angkat bicara lewat kolom yang diunggah di uzone.id (23/2/2021). Rasyid menilai rencana IPO yang dilakukan oleh para strartup itu akan berdampak positif kepada Indonesia, baik dilakukan di dalam maupun luar negeri. 

Baginya, IPO tersebut akan mendorong lebih banyak lagi pengusaha muda untuk mengembangkan perusahaan rintisan. Dia juga mengatakan, hal tersebut dinilai dapat mendorong Gerakan Pay It Forward. Jadi, dapat mendorong investasi-investasi selanjutnya di perusahaan-perusahaan rintisan lain.

Namun, Fajrin melihat bahwa keuntungan bagi negara ini akan lebih baik, apabila IPO perusahaan-perusahaan rintisan dilakukan di dalam negeri. Sebab itu, dia berharap kepada para startup yang tengah mempersiapkan IPO untuk melakukannya di dalam negeri. 

Oleh karena itu, Fajrin menilai bahwa IPO yang dilakukan perusahaan rinitsan, terutama IPO di luar negeri akan memiliki dampak positif dan negatif bagi startup tersebut. Dia menilai untuk melaksanakan aksi korporasi atau IPO di luar negeri, perusahaan akan mendapatkan perhatian yang lebih besar. Baik dari segi publikasi maupun cakupan investor yang lebih luas dan bermacam-macam.

“Salah satu pertimbangan dalam melakukan IPO di luar negeri, khususnya Amerika Serikat ialah soal publikasi berbagai pihak. Salah satu pihak yang paling penting  tentu saja calon investor. Dengan lebih banyak dana dan investor yang berputar di bursa saham Amerika Serikat, besar kemungkinan lebih banyak pula yang akan melirik saham mereka (perusahaan rintisan),” kata Fajrin.

Manfaat renacana IPO bagi Startup

Fajrin juga mengatakan, dampak positif lainnya adalah reputasi perusahaan akan lebih terangkat karena adanya perhatian media yang lebih besar. Reputasi yang baik itu diperlukan untuk melakukan ekspansi dan kerja sama dalam skala global.

Dampak positif ini tentu saja juga dibarengi dengan dampak negatif, salah satunya adanya trade off perpajakan. Dia juga menilai melakukan IPO di luar negeri akan mengharuskan perusahaan untuk membayar pajak dengan lebih besar, ketimbang IPO di dalam negeri.

Fajrin mengambil contoh pajak yang dikenakan kepada pemegang saham. Misal,untuk PPh dari setiap capital gain yang dikenakan kepada pemegang saham individu di luar negeri mencapai 30%, sedangkan di dalam negeri hanya 1%.

Apapun keputusan sebuah perusahaan rintisan, apakah itu IPO di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal yang diharapkan semua pihak ialah IPO yang mendatangkan keuntungan jangka pendek atau panjang bagi investor maupun pengguna produk atau produk jasa dari perusahaan rintisan, yang melakukan IPO.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments